Dokter Bicara Bahasa Apa Tadi?
Sebelumnya saya beri konteks dulu, postingan bukan dari dokter, praktisi atau ahli kesehatan lainnya, hanya dari wanita awam yang bertekad mencegah, mengusir kanker jauh-jauh dan ingin mengingatkan sesama wanita. Adanya kesalahan penyampaian dan istilah terjadi karena ketidaksengajaan, dan hampir semua informasi berbasiskan pengalaman pribadi dan data riset perselancaran dunia maya. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter :D
Malam ini setelah SADARI, malah saya yang panik. Haha.. lupa sama omelan sendiri. Itu sebabnya saya posting saja lah, sama-sama saling mengingatkan.
Resiko kanker terutama kanker payudara dan ovarium menjadi horor untuk para wanita, terutama yang awam seperti saya. Tadi pagi gara-gara Angelina Jolie (thanks to her, she is absolutely awesome) saya mendadak terinspirasi untuk googling semua hal tentang kanker payudara, karena saya pikir dengan adanya tante (adik papa) dan nenek jauh (tantenya mama) yang positif menderita kanker payudara, resiko saya lebih tinggi. Namun faktor resiko tidak hanya ada pada gen, namun juga usia, gaya hidup dan pola makan serta usia menstruasi pertama dan usia melahirkan pertama. (Bisa cek dengan kalkulator resiko kanker payudara di sini, meski sebaiknya tetap konsultasi ke dokter terdekat untuk hasil yang jauh lebih akurat). Alhamdulillah ternyata resiko saya rendah. Namun bukan berarti saya tidak melakukan SADARI setiap bulannya--tidak ada ruginya nampang beberapa menit di depan kaca untuk cek kondisi Payudara sendiri, itung-itung bernarsis ria mensyukuri anugerah Ilahi pada diri kita, hehehe.
Kembali ke hal yang menjadi judul post ini. Yang menyebalkan bagi saya, kenapa begitu susah bin angel bin saro nian bagi kita hanya untuk mendapatkan transfer pengetahuan yang mudah tentang kanker. Bukan, maksud saya bukan akses informasinya yang susah, tapi penyampaiannya. Bahasanya.
Ketika seorang awam berkeinginan untuk mengetahui seluk beluk kanker tentunya dengan tujuan mencegah dan medeteksi lebih dini, penjelasan-penjelasan yang berseliweran menggunakan bahasa kedokteran yang sama sekali tidak bisa dimengerti (Lagi-lagi saya katakan, untuk seorang awam di dunia kedokteran seperti saya). Misal: adanya hiperplasia atipikal adalah salah satu faktor yang meningkatkan resiko kanker. Tentu saja, saya tidak tahu apa itu hiperplasia atipikal sehingga Google menjadi senjata andalan. Apa yang keluar kemudian?
Hiperplasia atipikal:
Definisi - Kondisi di mana sel-sel abnormal payudara yang ditemukan di payudara lobules (atipikal lobular hiperplasia) atau payudara saluran (atipikal hiperplasia duktus).
Hmm.. dapat kan poin saya? Tujuan kamus adalah menyederhanakan pengertian kata-kata sulit untuk kemudian dipahami dan bisa menjadi pengetahuan tambahan untuk si pencari arti kata. Jika kemudian penjelasan hiperplasia atipikal ini malah lebih njelimet, di mana poin menyederhanakannya?
Lalu saya coba keyword dalam bahasa Inggris:
Definition of Atypical hyperplasia:
Atypical hyperplasia is a precancerous condition that affects cells in the breast. Atypical hyperplasia describes an accumulation of abnormal cells in a breast duct (atypical ductal hyperplasia) or lobule (atypical lobular hyperplasia).
Atypical hyperplasia isn't cancer, but it can be a forerunner to the development of breast cancer. Over the course of your lifetime, if the atypical hyperplasia cells keep dividing and become more abnormal, your condition may be reclassified as noninvasive breast cancer (carcinoma in situ) or breast cancer.
Saya pernah memiliki benjolan berukuran 2-2,5 cm di payudara kiri. Karena merasa aneh dan penasaran, 2 minggu setelah menstruasi (berdasarkan saran mama), saya dan mama pergi ke salah seorang dokter senior. Dokter tempat saya memeriksakan diri itu menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa si benjolan adalah tumor yang terletak di kuadran 1 dan harus segera dioperasi, kalau tidak akan membahayakan jantung saya. Saya masih berumur 16 kalau tidak salah, belum lulus SMA. Bayangkan seorang anak gadis berumur 16 tahun diberitahu dengan cara seperti itu! Semalaman saya tidak bisa tidur membayangkan masuk ruang operasi dan dibedah pakai pisau. Seumur hidup dirawat di rumah sakitpun saya belum pernah. Namun, entah mengapa, meski masih cupu dan belum memiliki pengetahuan mendalam tentang tumor payudara, besoknya saya memberanikan diri memutuskan tidak mau dioperasi. Dari nalar awam dan keinginan untuk ngeles dari operasi (yang kedua lebih dominan, haha), saya perhatikan si benjolan tidak membesar sama sekali dalam 2 bulan terakhir sejak saya menemukannya, masa sih segitu urgentnya untuk dioperasi?
Saya lalu memutuskan mencari second opinion terlebih dahulu, ke kota besar, tempat yang lebih terpercaya. Mama setuju. Sekitar 2 minggu kemudian saya berangkat ke Jogja untuk mengurus verifikasi masuk perkuliahan. Awalnya saya mau melakukan pengecekan lagi di salah satu Rumah Sakit di Jogja, namun saya pikir tidak ada salahnya mencoba dulu ke GMC, hitung-hitung ngreyen fasilitas kampus baru. GMC atau Gama Medical Center adalah fasilitas kesehatan untuk mahasiswa UGM yang tidak memungut biaya. Pada saat itu kalau tidak salah kami belum mendapatkan KTM dan GMC Card. Yang saya dapatkan baru lembar kertas sementara yang menggantikan KTM dan GMC Card.
Tante saya pernah panik gegara nemu benjolan di payudara kiri, saya jelaskan dalam pengetahuan saya bahwa tidak semua benjolan itu kanker, namun jika penasaran bisa datang ke dokter. Perihal benjolan, ada banyak jenisnya, kok. Ada yang berbahaya dan tidak berbahaya. Perbedaan paling mudah terletak pada posisi benjolan ketika digerakkan: bergerak vs kaku. Benjolan tumor atau kantung cairan biasa akan bergerak-gerak licin ketika dipegang, sementara bejolan kanker dan si benjolan bukan kanker kan, Tan? :)
Resiko kanker terutama kanker payudara dan ovarium menjadi horor untuk para wanita, terutama yang awam seperti saya. Tadi pagi gara-gara Angelina Jolie (thanks to her, she is absolutely awesome) saya mendadak terinspirasi untuk googling semua hal tentang kanker payudara, karena saya pikir dengan adanya tante (adik papa) dan nenek jauh (tantenya mama) yang positif menderita kanker payudara, resiko saya lebih tinggi. Namun faktor resiko tidak hanya ada pada gen, namun juga usia, gaya hidup dan pola makan serta usia menstruasi pertama dan usia melahirkan pertama. (Bisa cek dengan kalkulator resiko kanker payudara di sini, meski sebaiknya tetap konsultasi ke dokter terdekat untuk hasil yang jauh lebih akurat). Alhamdulillah ternyata resiko saya rendah. Namun bukan berarti saya tidak melakukan SADARI setiap bulannya--tidak ada ruginya nampang beberapa menit di depan kaca untuk cek kondisi Payudara sendiri, itung-itung bernarsis ria mensyukuri anugerah Ilahi pada diri kita, hehehe.
Kembali ke hal yang menjadi judul post ini. Yang menyebalkan bagi saya, kenapa begitu susah bin angel bin saro nian bagi kita hanya untuk mendapatkan transfer pengetahuan yang mudah tentang kanker. Bukan, maksud saya bukan akses informasinya yang susah, tapi penyampaiannya. Bahasanya.
Ketika seorang awam berkeinginan untuk mengetahui seluk beluk kanker tentunya dengan tujuan mencegah dan medeteksi lebih dini, penjelasan-penjelasan yang berseliweran menggunakan bahasa kedokteran yang sama sekali tidak bisa dimengerti (Lagi-lagi saya katakan, untuk seorang awam di dunia kedokteran seperti saya). Misal: adanya hiperplasia atipikal adalah salah satu faktor yang meningkatkan resiko kanker. Tentu saja, saya tidak tahu apa itu hiperplasia atipikal sehingga Google menjadi senjata andalan. Apa yang keluar kemudian?
Hiperplasia atipikal:
Definisi - Kondisi di mana sel-sel abnormal payudara yang ditemukan di payudara lobules (atipikal lobular hiperplasia) atau payudara saluran (atipikal hiperplasia duktus).
Hmm.. dapat kan poin saya? Tujuan kamus adalah menyederhanakan pengertian kata-kata sulit untuk kemudian dipahami dan bisa menjadi pengetahuan tambahan untuk si pencari arti kata. Jika kemudian penjelasan hiperplasia atipikal ini malah lebih njelimet, di mana poin menyederhanakannya?
Lalu saya coba keyword dalam bahasa Inggris:
Definition of Atypical hyperplasia:
Atypical hyperplasia is a precancerous condition that affects cells in the breast. Atypical hyperplasia describes an accumulation of abnormal cells in a breast duct (atypical ductal hyperplasia) or lobule (atypical lobular hyperplasia).
Atypical hyperplasia isn't cancer, but it can be a forerunner to the development of breast cancer. Over the course of your lifetime, if the atypical hyperplasia cells keep dividing and become more abnormal, your condition may be reclassified as noninvasive breast cancer (carcinoma in situ) or breast cancer.
Hal demikian tidak hanya terjadi pada informasi soal kanker, juga terjadi pada peringatan, efek samping dan indikasi yang tertulis pada obat-obatan yang tidak harus dibeli dengan resep dokter, seperti vitamin C dan obat batuk.
Saya tahu, istilah kedokteran tentu sudah memiliki pakem untuk mencegah adanya kesalahpahaman antar nakes, akurasi diagnosa dan obat, serta bagian tertentu yang memang tidak punya terjemahan dalam bahasa umum. Namun ketika sasaran komunikasi adalah masyarakat awam, istilah ini tentu tidak banyak membantu, jika tidak bisa dibilang membuat masyarakat jauh dari kata teredukasi. Mungin seharusnya sudah mulai ada gerakan atau tindakan dalam menyederhanakan bahasa kedokteran yang ditujukan pada sasaran non-kedokteran menjadi bahasa yang lebih ramah masyarakat awam, sehingga kami--masyarakat biasa yang ingin hidup sehat dan memahami kondisi tubuh sendiri--bisa memahami dan menjadikannya sebagai panduan untuk hidup dengan lebih baik. Ke depan, saya sangat berharap profesi-profesi pendukung seperti science communicator/science translator menjadi tumbuh subur untuk menghantarkan pengetahuan tepat sasaran kepada yang membutuhkan.
Terlepas dari itu semua, di masa kini mendapatkan informasi sungguh teramat sangat mudah tak terkira. Sehingga di sela-sela berselancar di dunia maya, rajin-rajin baca juga seputar kanker, ya girls. Semudah menggerakkan jempol di smartphone, kok. Salah satu cara mengalahkan musuh adalah memiliki pengetahuan yang banyak tentang musuh tersebut :)
Saya tahu, istilah kedokteran tentu sudah memiliki pakem untuk mencegah adanya kesalahpahaman antar nakes, akurasi diagnosa dan obat, serta bagian tertentu yang memang tidak punya terjemahan dalam bahasa umum. Namun ketika sasaran komunikasi adalah masyarakat awam, istilah ini tentu tidak banyak membantu, jika tidak bisa dibilang membuat masyarakat jauh dari kata teredukasi. Mungin seharusnya sudah mulai ada gerakan atau tindakan dalam menyederhanakan bahasa kedokteran yang ditujukan pada sasaran non-kedokteran menjadi bahasa yang lebih ramah masyarakat awam, sehingga kami--masyarakat biasa yang ingin hidup sehat dan memahami kondisi tubuh sendiri--bisa memahami dan menjadikannya sebagai panduan untuk hidup dengan lebih baik. Ke depan, saya sangat berharap profesi-profesi pendukung seperti science communicator/science translator menjadi tumbuh subur untuk menghantarkan pengetahuan tepat sasaran kepada yang membutuhkan.
Terlepas dari itu semua, di masa kini mendapatkan informasi sungguh teramat sangat mudah tak terkira. Sehingga di sela-sela berselancar di dunia maya, rajin-rajin baca juga seputar kanker, ya girls. Semudah menggerakkan jempol di smartphone, kok. Salah satu cara mengalahkan musuh adalah memiliki pengetahuan yang banyak tentang musuh tersebut :)
Dan yang penting, jangan lupa SADARI ya wanita-wanita Indonesia nan cerdas dan perkasa! :*
Komentar