Postingan

Menampilkan postingan dengan label Daily Stories

Bertemu Senja

Gambar
Kemarin, ketika menjalankan tugas berkunjung ke desa transmigrasi Talang Jawa di kabupaten PALI, Sumatera Selatan, aku tak sengaja kembali bertemu 'senja'. Menyenangkan. Lama tak berjumpa. Cantik sekali, seperti biasa. 'Busana'-nya hari ini sangat sederhana: jajaran pohon pisang, nangka, dan beberapa tanaman liar, dengan sedikit siluet sayap burung melintasi wajahnya yang merona jingga. Sejenak kualihkan lensa ke arahnya. Senja tidak pernah banci kamera--aku yang banci senja--tapi selalu berhasil membuat aku terpesona, membuat tenang sekaligus antusias, damai sekaligus girang, sedih--karena hadirnya begitu singkat--sekaligus jatuh cinta, betapapun seringnya aku bertemu dengannya. Senja tidak pernah absen, meski kadang kedatangannya terabaikan, dianggap biasa saja, atau kadang tak sempat dilihat. Tak banyak yang menanti atau memperhatikan kapan ia berkunjung dan kapan ia berlalu. Senja tetap saja selalu datang, tak pernah tak tepat janji. Itu sebabnya aku suka sen...

Another Reason to Thank God #1

Barusan, baruuuuu saja, saya mengantarkan seorang Ibu meninggalkan kantor. Jam 2 tadi, pintu ruangan saya diketuk oleh sekuriti dari Main Gate. "Mbak, ada ibu-ibu dateng katanya mau ketemu.." "Siapa, Mas? Mau ketemu siapa?" "Siapa aja katanya Mbak.." "Loh?" Sembari menuju teras kantor, Mas Frenki, sekuriti kami, menjelaskan bahwa Ibu tersebut berasal dari desa Tanjung Dalam, pinggiran Sungai Lematang. Anaknya meninggal di Bangka Belitung dan beliau tidak punya uang untuk datang ke pemakaman anaknya di sana. Ketika membuka pintu depan, saya mendapati sosok Ibu berusia sekitar 60 tahun. Sekitar -nya itu versi saya sebenarnya. Ketika saya ajak masuk, si Ibu tidak mau. Katanya badannya kotor. Saya tanya dari mana; "Aku mungut barang-barang bekas Nak, kasarnyo pemulung lah. Dikit dapat hari ikak.. sekarung dak sampai," "Dem dari jam berapo tadi Bu?" "Mulai jam sepuluh ikak lah, tapi kan tadi ujan deras jadi b...

Masak Masyuk #1: Pak Man, eh, Pac Man Rainbow Cake

Gambar
Jadi ingat. Suatu hari aku dan pangeran kodok begitu terobsesi dengan Rainbow Cake--berarti setiap hari obsesi kami berubah-ubah? Betul sekali ;) Tapi sebagai pasangan pencari lokak , kami bukan terobsesi buat makan, melainkan memanfaatkan ketenaran kue pelangi ini untuk bikin bisnis *dasar. 5 hari sebelum pulang kampung permanen, kami membeli satu potongan besar Rainbow Cake di salah satu toko kue di dekat kos adikku di Jogja, di kawasan jalan Flamboyan, Deresan. Setelah icip-icip rasa, kualitas, tekstur dan browsing resep, kami--tepatnya aku--pede bisa bikin yang sama persis seperti yang kami beli. Mulai deh aku dan si pacar berburu bahan-bahan. Mulai dari pilah pilih esens pasta 6 warna sampai krim keju yang enak tapi nggak nguras kantong. Meski popularitas kue ini sedang lucu-lucunya, agak sulit menemukan esens enam warna yang aku cari, karena kebanyakan hanya berupa pasta yang tidak memiliki aroma alias pewarna saja. Dan memilih esens ini juga harus cermat betul akan kand...

Selo dan K-Seleo

Selo (senggang, Red) sekali hari ini. Kaki kiri masih pegal sekali gara-gara nyoba kondangan pakai wedges sebelas senti. Sesaat jumawa karena berasa tinggi sekali--lebih tinggi dari mempelai pria yang hajatannya aku datangi. Tapi efek buruk dari high heels atau wedges adalah kejumawaan yang terjun bebas ketika masuk kamar dan lepas sepatu lalu bercermin dan mendapati aku sudah kembali ke dunia nyata. Haha, wanita.. Beberapa menit yang lalu aku merebahkan diri dan berpikir ini adalah pertama kali nya aku memakai wedges, terlebih lagi tadi sempat keseleo, wajar jika pegal-pegal. Tapi tak lama aku baru teringat pada sebuah wedges abu-abu tua yang kubeli di salah satu underground market di Daejeon. Yaaa ternyata itulah wedges pertamaku! Hal yang masih aku ingat betul adalah shopping bersama Alyona, Urfi, Assel dan Anna berakhir dengan pandang-memandang hasil belanjaan di kamar, dan dilanjutkan dengan fitting sekaligus make over dengan semua dress dan make up kit Alyona dan Urfi. Lalu m...

Obrolan di Atas Sepeda Motor #6

Be, bagian depan mobil-mobil itu kayak muka orang nggak sih? Hahaha iya.. Lampunya mata, bempernya mulut.. Avanza yang itu, kesannya punya muka serius, gigih, fokus. Vios kayak cewek introvert. Truk itu kayak muka Bapak-bapak pemarah, ada kumisnya juga.. Iya! APV dong APV, kayak orang mau nangis. Haha.. (Di sekitar Gereja Kotabaru, Yogyakarta, 2012)

Obrolan di Atas Sepeda Motor #5

Pasca baca makalah seorang mahasiswa Sospol: Kenapa kita harus bayar mahal tiap semester untuk membuat rumit hal-hal yang sebenarnya akan baik-baik saja tanpa perlu dibuat rumit? (Jalan Jambon - Tepatnya ngobrol dengan diri sendiri, 2011)

Obrolan di Atas Sepeda Motor #4

Makan di mana enaknya ya? Pengen nyoba yang baru ah. Apa dong? Warung Pak Kobis! Pedes.. Ayam yang dibilang Mbak Intan itu? Tutup.. Kalo yang kemaren kita liat di Jokteng? Ntar malah nggak enak.. Nyobain agak ke utara aja.. Pasti mahalll.. Jadi? Pak Sondemo aja ya.. *Tepok jidat (Yogyakarta, Selalu begini, setiap hari)

Obrolan di Atas Sepeda Motor #3

Be.. Apa? Gelandangan sama pengemis punya bisa punya anak kecil-kecil? Pada kawin nggak ya? Kalau punya anak ya berarti kawin dong.. Bukaaan, kawin legal, nikah maksudnya.. Mereka punya duit nggak buat ke KUA ya, ngurus pernikahan? Nikah siri kan bisa.. Kalau nggak punya duit buat bayar penghulu? Ya nggak nikah.. Kalau gitu pembuatan anaknya gimana dong? Hahahahaha.. iya ya.. (Perempatan MM UGM, 2011)

Obrolan di Atas Sepeda Motor #1

Tau nggak aku lagi mikir apa? Apa itu? Mungkin, warna yang selama ini kita lihat bukan warna yang sebenarnya Tuhan lihat ya? Mungkin mata kita itu punya efek menipu, tapi karena semua orang mendapatkan efek yang sama, semua orang berpikir bahwa merah itu merah, hitam itu hitam, jadi kita merasa nggak ada yang salah. Walaupun sebenarnya di luar indra penglihatan kita, merah itu hitam, hitam itu merah.. Hmmmmm.. (Perjalanan dari Jalan Bantul menuju Jogja, 2012)

Keracunan yang Bikin Kecanduan

Gambar
Ketika hentakan intro yang familiar itu dimulai, penonton serentak bangkit dan berjingkrakan di depan panggung pendek itu. Mars Penyembah Berhala benar-benar pembius! Kali ini tak hanya Ugo dan kawan-kawan yang kesurupan, namun seisi Langgeng. Lirik demi lirik meluncur deras seperti terbiasa diucapkan setiap hari. Saya yang duduk lesehan di atas rumput di deret paling belakang taman kecil terbuka di Langgeng Art, yang sepanjang sesi pertama dan kedua menikmati dengan manis lagu-lagu yang saya sudah hapal betul liriknya, di sesi akhir ini seperti tertarik gravitasi kuat untuk melonjak berdiri,  dan sejurus kemudian tak sadar sudah berjingkrak-jingkrak di tengah kerumunan. Puas. Puas sekali, antusias, meletup-letup sekaligus merasa kehilangan. Se-gado-gado itulah perasaan yang terlintas setelah hadir langsung di Langgeng Art Foundation 27 Juli lalu, menyaksikan sekumpulan seniman yang sedang bermusik yang menamai diri mereka Melancholic Bitch. Sebabnya, in...