Postingan

Sebut Saja Negeri Srunthul (Bagian 2)

2 minggu menjelang pemilihan Raja baru, Mahapatih kembali mengadakan pesta besar-besaran di lapangan terbesar di kerajaan. Semua warga diundang berjoget, bernyanyi dan mendengarkan pidato-pidato mahapatih yang disambut riuh rendah para penduduk desa. Beberapa jam kemudian, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa 1 keping mata uang Srunthul yang cukup untuk dibelanjakan sandal jepit. Mereka sangat bahagia menggenggam sekeping uang pemberian mahapatih, dan hal itu mereka kenang sepanjang masa. Semua pegawai kerajaan tunduk pada perintah mahapatih untuk tidak memilih siapapun selain dirinya. Ratusan pegawai kerajaan sangat kuatir jika posisi mereka akan digeser bahkan dibuang jika tidak memilih mahapatih. Para kepala suku mendatangi rumah-rumah untuk menyampaikan pada semua warga bahwa jika mereka tidak memilih mahapatih sebagai raja baru, desa mereka akan sengsara, nama mereka akan diingat sebagai pengkhianat dan mereka tidak akan pernah mendapatkan jatah roti gandum untu...

Sebut Saja Negeri Srunthul (Bagian 1)

Nun jauh di sana, sebuah negeri bernama negeri Srunthul harus merelakan Raja mereka karena sudah memerintah terlalu lama. Sudah habis masa jabat-nya. Sang Raja bukanlah Raja yang bijaksana, bukan pula raja yang cerdas dan bersahaja. Sang Raja tua justru terkenal dengan gaya hidup mewah nan glamor. Begitupula istrinya. Sang Ratu sangat suka berbelanja dan bernyanyi, meski pendengarnya harus mengelus dada. Para pengikut Ratu yang kebanyakan wanita-wanita berusia 40-50 tahunan, selalu bertepuk-tepuk tangan mengitari Ratu setiap kali dirinya bernyanyi di pesta-pesta rakyat ataupun pernikahan. Namun penduduk Srunthul sepertinya tidak terlalu mempersoalkan. Srunthul adalah negeri berusia muda yang masih belum mengerti betul apa yang mereka butuhkan. Usia sang Raja yang sudah terlalu tua membuat negeri Srunthul mau tidak mau harus mencari raja baru. Seorang calon pemimpin yang bisa membawa negeri Srunthul yang kaya akan sumber daya alam menjadi negeri yang sejahtera dan bebas korupsi. Y...

Brebes Mili Pasca Wisuda

Gambar
Sempat lihat foto orang-orang yang nangis pas wisuda di sebuah situs jejaring sosial. Mungkin saking bahagianya, atau saking sedihnya. Dulu--dulu nih--agak heran dengan yang nangis karena sedih, soalnya nggak ngerasa sama sekali bahwa wisuda itu menyedihkan, atau lulus itu menyedihkan. Lulus itu membahagiakan! Secara proses mendapatkannya semacam kombinasi antara niat, kerajinan, kenekatan, keberanian ngajak dosen diskusi, intensitas ke perpus, cambukan liat temen-temen yang wisuda duluan, dosen pembimbing dan faktor luck-- ada loh temen yang sidangnya ditunda setahun atau ditinggal dosen ke luar negeri sampe 3 kali! Dan rasanya lolos dari proses itu kayak naik paus akrobatik sambil minum cappucino sachet-an. *apa sih*

Apel Adam

Gambar
Dear pembaca (kalau ada yang baca), saya sedang bermaksud membuat postingan dengan subjektifitas berlebihan pada sebuah kelompok seniman yang menyebut diri mereka Melancholic Bitch. Entah ini postingan saya yang keberapa tentang Melbi. Mohon jangan lempari saya dengan tomat kalau pembaca sekalian bosan. Dengan apel saja, ya.  Jadi, ini dia, namanya Apel Adam . Bukan jakun. Ini semacam narasi berbalut musik dari album Balada Joni dan Susi, yang ketika didengarkan membuat kita membayangkan Joni yang tengah berlari menghidari massa, membuat kita ingin memeluk Susi yang sedang sakit dan bikin kita pengin injek-injek pemerintah pakai gajah dan buldozer. Saya iri sekali dengan Lani alias Frau (memangnya saya siapa?) yang bisa mengawinkan pita suaranya dengan Ugo pada malam konser Keracunan Ingatan tahun lalu yang justru membuat lagunya jadi semakin menyayat-nyayat. Dan, ya ampun, betapa seksinya suara Ugo di sini!

Masak Masyuk #1: Pak Man, eh, Pac Man Rainbow Cake

Gambar
Jadi ingat. Suatu hari aku dan pangeran kodok begitu terobsesi dengan Rainbow Cake--berarti setiap hari obsesi kami berubah-ubah? Betul sekali ;) Tapi sebagai pasangan pencari lokak , kami bukan terobsesi buat makan, melainkan memanfaatkan ketenaran kue pelangi ini untuk bikin bisnis *dasar. 5 hari sebelum pulang kampung permanen, kami membeli satu potongan besar Rainbow Cake di salah satu toko kue di dekat kos adikku di Jogja, di kawasan jalan Flamboyan, Deresan. Setelah icip-icip rasa, kualitas, tekstur dan browsing resep, kami--tepatnya aku--pede bisa bikin yang sama persis seperti yang kami beli. Mulai deh aku dan si pacar berburu bahan-bahan. Mulai dari pilah pilih esens pasta 6 warna sampai krim keju yang enak tapi nggak nguras kantong. Meski popularitas kue ini sedang lucu-lucunya, agak sulit menemukan esens enam warna yang aku cari, karena kebanyakan hanya berupa pasta yang tidak memiliki aroma alias pewarna saja. Dan memilih esens ini juga harus cermat betul akan kand...

Arsip #5 : Kreatifitas Tiada Henti (Dipublikasikan di Majalah Kabar Tani)

Gambar
Ini termasuk salah satu tulisan yang proses kelahirannya paling berat: liputan mendadak ke luar kota yang sama sekali belum pernah aku datangi sebelumnya, pencarian ATM yang memakan waktu hampir 2 jam, kehabisan bis dan travel untuk pulang ke Jogja, mengejar bis terakhir dengan ojek melewati jalanan sempit curam di tengah hujan--tanpa helm--untuk kemudian berangkat lagi ke Jakarta keesokan subuhnya. Hal terbaik hari itu hanyalah kemenangan Indonesia  2-1 atas Thailand dalam final penyisihan grup A piala AFF 2010, yang aku saksikan di televisi bis Sumber Kencono yang hidup segan mati tak mau.  Oh iya, artikel ini dimuat dalam Majalah Kabar Tani edisi Desember (atau Januari ya?) dalam rubrik Teropong Tokoh. KREATIFITAS TIADA HENTI Miranda Syevira Jalan yang kecil dengan tikungan-tikungan tajam adalah rute yang harus kami tempuh menuju desa Pringkuku. Namun setibanya di wilayah asri ini, tak ada kesulitan untuk menemukan sebuah rumah dimana semua...

Arsip #4 : Berdamai dengan Alam (Dipublikasikan oleh Majalah Kabar Tani)

Tulisan ini berada dalam rubrik Fokus Kita dalam majalah CSR PT Unilever Tbk: Kabar Tani, akhir tahun 2010. Lagi-lagi, kemalasanku menyusun portofolio membuat aku tidak pernah melihat bentuk tulisan-tulisanku ketika sudah di-publish. BERDAMAI DENGAN ALAM Miranda Syevira Tidak perlu sering-sering ‘menghabisi’ hama dengan pestisida dan metode-metode yang menguras biaya. Para petani di Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo ini sudah punya paten tersendiri. Kerusakan alami, harus disiasati dengan cara alami pula. Mereka menyebutnya sistem Padi-Padi-Polowijo. Tidak semua wilayah bisa dengan sukses mengaplikasikan sistem tanam selang-seling satu ini. Namun tidak demikian halnya dengan Desa Jatirejo. Serangan hama wereng yang tak berkesudahan membuat produktifitas hasil pertanian sempat turun drastis di tahun-tahun sebelumnya. Meski awalnya petani berupaya mengatasi dengan pestisida dan cara-cara manual, hal ini tetap sia-sia. Frustasi, petani ramai-ramai be...

Filosof Spesialis Pertanyaan Remeh Temeh #1: Huruf, Kata, Bahasa.*

Gambar
Huruf itu luar biasa, ya? Maksudku, sistem merangkai huruf menjadi kata, lalu tulisan, itu luar biasa. Begini. Kita mengenal 26 huruf, mungkin kurang atau lebih untuk negara yang memiliki sistem huruf sendiri. Kita pakai saja huruf latin A B C. Kelihatannya sepele ya? Apa hebatnya jajaran huruf yang ada 26 biji itu? Dengan matematika peluang, dalam hal ini permutasi (jangan ditimpukin kalau salah), jatuhnya kalau tidak salah seperti ini: n   = 26 (A-Z) r    = 2 (kombinasi huruf: AB, BE, TA, CA, dst) Peluang   =      n!            =       26!        =     26.25. 24!    =    650                     (n - r)!            (26-2)!                 24!                ...

Ibuku?

Gambar
Beliau adalah wanita yang aku panggil mama. Namanya cantik, Fatia Fahmida. Sejak menyadari mama punya nama yang cantik, aku jadi suka nama yang mengandung unsur vokal a-i-a, suatu saat anakku juga akan kunamai dengan unsur vokal yang sama. Kata almarhumah nenek, Fatia diambil dari Al-Fatihah, Ummul Qur'an. Jantungnya Al-Qur'an. Suaranya cantik, beliau suka bersenandung ketika mencuci, memasak, menjemur, dan menimang anak-anaknya. Wajahnya cantik, bagiku beliau Ibu yang paling cantik. Kulitnya putih bersih, matanya jernih, rambutnya lurus hitam dan tebal. Usia membuat beberapa noda hitam muncul di wajahnya, dan pekerjaan rumah tangga membuatnya tak pernah memanjangkan rambut cantiknya. Sering kami, putrinya, memaksa beliau memanjangkan rambut. Jawabannya sederhana: "Ribet, kalau masak, nyuci, gendong adek, nanti rambutnya kemana-mana." Mamaku adalah wanita yang tidak pernah sekalipun datang ke salon kecantikan kecuali untuk potong rambut. Tetapi untuk aku dan adik pe...

Arsip #3 - Bicara Musik Indie: Tentang Counter-Culture Kapitalisasi Seni

Yang satu ini tadinya bagian dari makalah mata kuliah Urban Politics alias Politik Perkotaan, yang entah diterima atau tidak oleh dosen pengampu gara-gara si makalah masuk lewat kolong pintu ruang jurusan. (Mudah-mudahan mbak Dosen nggak baca :D) Gara-gara kepincut hadiah dari sebuah kompetisi menulis, sebut saja Jakarta Beat Net Writing Competition, makalah ini pun disulap jadi jauh lebih pendek dan berkurang drastis unsur ke-Politik Perkotaan-nya. Tetap saja nggak menang. Lha iya, apa hubungannya Politik Perkotaan dengan musik Indie? Ada. Dan Menarik. Sayang sekali file makalah aslinya sudah menghilang entah ke mana. Artikel gagal juara bacotan penulis sekelas penikmat musik nan awam ini adalah salah satu yang (nyaris) terserak dan berhasil ditemukan kembali. :)                               ...