Postingan

Arsip #3 - Bicara Musik Indie: Tentang Counter-Culture Kapitalisasi Seni

Yang satu ini tadinya bagian dari makalah mata kuliah Urban Politics alias Politik Perkotaan, yang entah diterima atau tidak oleh dosen pengampu gara-gara si makalah masuk lewat kolong pintu ruang jurusan. (Mudah-mudahan mbak Dosen nggak baca :D) Gara-gara kepincut hadiah dari sebuah kompetisi menulis, sebut saja Jakarta Beat Net Writing Competition, makalah ini pun disulap jadi jauh lebih pendek dan berkurang drastis unsur ke-Politik Perkotaan-nya. Tetap saja nggak menang. Lha iya, apa hubungannya Politik Perkotaan dengan musik Indie? Ada. Dan Menarik. Sayang sekali file makalah aslinya sudah menghilang entah ke mana. Artikel gagal juara bacotan penulis sekelas penikmat musik nan awam ini adalah salah satu yang (nyaris) terserak dan berhasil ditemukan kembali. :)                               ...

Arsip #2 - Mendidik dengan Hati (Dipublikasikan oleh Majalah Guruku)

Gambar
Tulisan ini pernah dipublikasikan di Media Komunitas "Guruku", di awal tahun 2011. Berhubung sampai sekarang aku belum punya majalahnya, aku publish saja di sini, bentuk permintaan maafku pada Pak Arief Ichwantoro dan Popong. karena belum bisa memberikan bentuk fisik majalahnya sampai sekarang, hehehe. MENDIDIK DENGAN HATI Miranda Syevira   “Pak, Ikannya mati!” Seorang siswa menghampiri gurunya sambil berteriak-teriak. Sang guru mengikuti ke meja percobaan yang dikelilingi sekitar sepuluh siswa dan menilik gelas ukur di depannya. “Suhunya kelewat tinggi itu, ya jadi ikan rebus dong. Turunin dulu suhunya, ingat cuma 5 derajat loh ya!” Dan anak-anak berusia 11 sampai 12 tahun ini kembali mencari akal bagaimana menurunkan suhu air dan memperlakukan Ikan Mas mereka secara hati-hati. Laboratorium kembali disibukkan oleh langkah-langkah kaki dan dentingan gelas ukur. Puncaknya, teriakan ‘Yes!’ dan sorak gembira terdengar ketika hipotesis dalam lembar lap...

Welcome to the Jungle of Working Class! Rrrrrr!

Gambar
Mungkin lebih baik meninggalkan Jogja dengan cara begini, ya? Berpura-pura bahwa aku pura-pura mau pulang mudik lebaran (artinya, benar-benar cuma niat mau mudik lebaran!), beli tiket pulang jam 1 siang, berangkat jam 4 sore, membawa 3 lembar baju dan 1 jins cadangan, petantang petenteng pulang ke rumah dengan rencana A-Z untuk melanjutkan bisnis bersama pangeran kodok ketika pulang ke Jogja, dan melakoni rutinitas mudik yang biasa. Masak-masak, makan-makan, tiduran, dagang sop buah di pasar Bedug, makan-makan lagi, masak-masak lagi, ah, mudik.. Tapi siapa sangka ini bukan mudik biasa, tapi 'pulang permanen'. Pertengahan bulan lalu, PT Partominah Oh-Beb (Baca: Pertamina UBEP) Adera, sedang membutuhkan tenaga tambahan untuk mengisi posisi CSR yang notabene jadi istilah asing di perusahaan yang lokasinya menyelusup jauuuuuh di pelosok Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan ini. Pada saat dinyatakan lolos seleksi administrasi dan memasuki sesi interview user, Aku data...

Selo dan K-Seleo

Selo (senggang, Red) sekali hari ini. Kaki kiri masih pegal sekali gara-gara nyoba kondangan pakai wedges sebelas senti. Sesaat jumawa karena berasa tinggi sekali--lebih tinggi dari mempelai pria yang hajatannya aku datangi. Tapi efek buruk dari high heels atau wedges adalah kejumawaan yang terjun bebas ketika masuk kamar dan lepas sepatu lalu bercermin dan mendapati aku sudah kembali ke dunia nyata. Haha, wanita.. Beberapa menit yang lalu aku merebahkan diri dan berpikir ini adalah pertama kali nya aku memakai wedges, terlebih lagi tadi sempat keseleo, wajar jika pegal-pegal. Tapi tak lama aku baru teringat pada sebuah wedges abu-abu tua yang kubeli di salah satu underground market di Daejeon. Yaaa ternyata itulah wedges pertamaku! Hal yang masih aku ingat betul adalah shopping bersama Alyona, Urfi, Assel dan Anna berakhir dengan pandang-memandang hasil belanjaan di kamar, dan dilanjutkan dengan fitting sekaligus make over dengan semua dress dan make up kit Alyona dan Urfi. Lalu m...

Anak Gadis Idaman Mertua

Gambar
Minggu, 15 Mei 2011 Sungguh judul yang konyol! Haha Hari ini kami benar-benar terlihat seperti anak gadis gigih dan manis-manis yang diidamkan para calon mertua. Sebab musababnya adalah kami berjuang dengan setulus hati dan sekuat tenaga untuk mengikuti kelas memasak yang diadakan di Daejeon Downtown. Dan berhasil. Informasi mengenai kelas memasak ini awalnya didapatkan Anna (Satriyani) dari laman Facebook Daejeon. Kami yang awalnya begitu bersemangat menjadi begitu kecewa karena kelas masak tersebut telah penuh. Beberapa hari kemarin, aku iseng membuka kembali laman yang dirujuk Anna, dan iseng bertanya apakah kelas tersebut benar-benar sudah tidak membuka peluang lagi untuk siswa baru. Dan jawabannya? Masih bisa! Aku segera mengetuk pintu kamar Anna dan menyampaikan kabar gembira itu. Chang Li, yang juga sejak awal sangat ingin mengikuti kelas, ikut heboh mempersiapkan diri. Permasalahan berikutnya adalah, kelas itu berlangsung hampir bersamaan dengan kelas Bahasa Korea kami....

"Perkenalkan, Saya Tante Fatimah."

Gambar
Jum’at, 13 Mei 2011. Temanku Jared, cowok imut yang tinggi tapi bermuka kecil (tipe ini menurut cewek-cewek Korea, disebut 꽃 미남, dibaca Kottminam, harfiah: tampan seperti bunga alias Flower Boy) asal Amerika Serikat, hari ini mengajakku, Anna dan Urfi untuk bertemu dengan seseorang yang katanya sangat tertarik dengan Indonesia. Siang ini kami membuat janji untuk bertemu di Homeplus di kawasan Mun Hwa Dong, karena si Ibu katanya akan menunggu di sebuah restoran di Department Store yang jaraknya lumayan jauh dari kampus itu. Satu-satunya masalah ketika bikin janji dengan orang Korea asli adalah bahasa Korea kami masih sangat mengkhawatirkan. Tapi untungnya Jared sudah pernah tinggal di Korea selama dua tahun sebelum bergabung dengan program ini dan kemampuan bahasa Koreanya sudah licin cin macam disiram oli. Dengan naik taksi, aku, Anna dan Urfi sampai di Mun Hwa Dong dan diantar menuju sebuah resto American Buffet di lantai dua. Duduk di dalamnya, berkenalan dengan dua orang Ibu-ib...

Salju! Saljuuuu!

Gambar
Rabu, 16 Maret 2011. Aku terlambat naik ke kasur dan baru bangun 30 menit sebelum kelas Organizational Behavior -ku dimulai. Untung ada Anna (Satriyani, well , tinggal ada satu Anna juga sih), yang mengetuk pintuku tepat pada waktunya. Hari ini tidak terlalu dingin. Pojok Forecast di Laptop hanya menunjukkan angka 15 derajat celcius. Jadi aku hanya memakai kaus longgar dan kardigan hitam, meski tentu saja masih memakai longjohn di lapisan pertama. Untung saja, Profesor Song tiba 5 menit setelah kami sudah mendapatkan tempat duduk—seperti biasa, di baris paling belakang. Di tengah istirahat pertama, aku yang sedang memandangi jendela melihat sesuatu mirip bulu burung putih beterbangan di luar. Sepersekian detik kemudian aku langsung sadar bahwa itu salju! Pasti salju. Apalagi coba? Pohon di depan jendela itu pohon kapas? (Masuk akal, sih).  Atau merpati-merpati yang sedang bermigrasi ke selatan mengalami kerontokan bulu massal? (Opo tooo). Itu pasti salju! Aku antus...