Postingan

Keracunan yang Bikin Kecanduan

Gambar
Ketika hentakan intro yang familiar itu dimulai, penonton serentak bangkit dan berjingkrakan di depan panggung pendek itu. Mars Penyembah Berhala benar-benar pembius! Kali ini tak hanya Ugo dan kawan-kawan yang kesurupan, namun seisi Langgeng. Lirik demi lirik meluncur deras seperti terbiasa diucapkan setiap hari. Saya yang duduk lesehan di atas rumput di deret paling belakang taman kecil terbuka di Langgeng Art, yang sepanjang sesi pertama dan kedua menikmati dengan manis lagu-lagu yang saya sudah hapal betul liriknya, di sesi akhir ini seperti tertarik gravitasi kuat untuk melonjak berdiri,  dan sejurus kemudian tak sadar sudah berjingkrak-jingkrak di tengah kerumunan. Puas. Puas sekali, antusias, meletup-letup sekaligus merasa kehilangan. Se-gado-gado itulah perasaan yang terlintas setelah hadir langsung di Langgeng Art Foundation 27 Juli lalu, menyaksikan sekumpulan seniman yang sedang bermusik yang menamai diri mereka Melancholic Bitch. Sebabnya, in...

A Warmness That I Miss: Hanok, Sunshine, New Family

Gambar
I didn't expect that living overseas will give me hospitality as much as what I get from my home country, Indonesia.  But I was a little bit wrong.  In my second month in Korea, I've been accepted as a member of 2011 Hanok Stay Program, held by Korean Tourism Organization. This annual program helped foreign students from any countries to feel cultural experience in Jongno-Gu, Seoul, where there were hundreds of rebuilt Hanok--Korean Traditional House. After a long stupid first journey to Seoul by KTX with my New Zealand friend, Rebecca, and after dropped a cup of coffee in an Ahjussi's outfit in a restaurant, we (finally) arrived at 9.30 am sharp in KTO. We made it, I might add, without any help from Korean or information center. Thanks to a brilliant transportation arrangement, that could help you find where to go among 6 different subway lines with hundreds of stations.  With a help of Ms. Park's English translation--a 55 or more years old attractive lady...

Layang-Layang Sutera

Gambar
Aku tak mau menyebut ini resensi. Ini hanya luapan perasaan yang memang harus dikeluarkan setelah menyelesaikan 158 halaman buku (aku tak punya istilah yang cocok untuk jenis buku macam ini, jurnal semi-novel mungkin?) yang ditulis sahabatku, Anggi Lean Sari. Selalu, butuh waktu yang tidak sedikit bagiku untuk menyelesaikan sebuah novel atau buku, fiksi atau non-fiksi. Entah baik atau tidak, aku punya kebiasaan menunggu waktu yang tepat, posisi yang nyaman dan mood yang baik untuk mulai membaca--dan itu tidak terjadi setiap saat. Selain itu, menyelesaikan satu bab saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Aku mencerna setiap kalimat sampai puas, bahkan terkadang ada dialog yang tempo dan pengucapannya jelas tergambar di kepalaku, hingga aku sering bersuara tanpa disadari untuk menyelesaikan pemahaman yang kutakutkan akan ambigu. Dan sering--bahkan hampir selalu--aku membolak balik halaman untuk mencari dialog atau kalimat yang ada hubungannya dengan halaman yang sedang kubaca...

From Dust to Dutch - Changing Conservative Mindset in Educating Children of The Poor

Gambar
FROM DUST TO DUTCH:  CHANGING CONSERVATIVE MINDSET IN EDUCATING CHILDREN OF THE POOR Miranda Syevira, Indonesia [1] Tulisan ini juga bisa dilihat di  website resmi South East Asian Ministers of Education Organization , sebagai artikel terbaik ketiga dalam SEAMEO-Australian Government International Press Award . For them, there are no limits to break the limitations. They create their own way to bring these children up to see a brighter future than singing road to road or being scavengers. Two years ago, I met two children in kampung Juminahan near Code River, wearing oversized shirt, bringing a cup of Rupiah’s coin and singing in front of me, no guitar, no sandals or shoes, no adults beside them. When I asked them what did they do and don’t they go to school tomorrow morning, they shouted in Javanese language:  aku ra tau sekolah mbak, mung nggolek duit, luwih penak  (we never attend school, miss. It is better to looking for some money) And ...

Bukan, bukan LPJ. Ini curhat dan pengakuan dosa..

        Tiga belas bulan. Kalau dipakai menghitung usia orang hamil, istilahnya Bunting Kebo. Berarti anak yang akan lahir diibaratkan sebesar anak Kerbau. Ya, Sintesa hamil anak gemuk-gemuk selama tiga belas bulan. Sering mual, muntah-muntah, doyan bermalas-malasan dan kadang tidak nafsu makan. Tapi toh mereka lahir juga, dan izinkan saya memperkenalkan mereka satu per satu. Indikator: Ketika isu ketidakadilan penerimaan dan bobroknya teknis seleksi beasiswa di Fisipol terlupakan, kita angkat dia kembali agar orang-orang ingat dan sama terusiknya seperti awak Sintesa yang dengan gigih melahirkan indikator pertama di kepengurusan 2010. Just Do It (Baca: Cuma Duit). KIK, renovasi gedung-gedung Fakultas, dan rencana pengembangan berbagai aset yang anyirnya tercium luas di dunia maya membuat Standar Semu WCRU harus mengorbit. Bentuk sikap mahasiswa terhadap keinginan (atau ambisi?) universitas menu...